Search site


Contact

Asmarahadi

E-mail: aasmarahadi@yahoo.co.id

Orang lain tak benar-benar tahu apa yang anda rasakan

12/03/2010 19:52

Hidup memang serngkali tidak bersahabat, terutama untuk orang-orang yang gagal dan kurang beruntung. Kebanyakan manusia menilai seseorang hanya dari keberhasilan yang telah dicapainya, tanpa pernah mau tahu bagaimana proses yang telah dialami orang tersebut. Tak peduli apakah orang tersebut mencapai posisinya dengan sangat mudah atau dengan perjuangan yang berat dan panjang. Tak banyak orang yang mau tahu bagaimana proses yang telah dialami seseorang untuk mencapai posisinya tersebut. Orang hanya menghargai keberhasilannya tanpa peduli bagaimana proses yang telah dilaluinya. Padahal seseungguhnya proses pencapaian itu jauh lebih penting daripada capaiannya sendiri. Apakah sama nilainya antara seseorang yang berhasil menjadi pejabat dengan mengeluarkan banyak uang suap dengan orang yang benar-benar mencapainya dengan perjuangan yang bersih? Tentu tidak bukan? Walaupun posisinya sama, tapi nilainya sangat berbeda. Apa hebatnya menjadi pejabat dengan menyogok? Toh yang hebat adalah uangnya, bukan orangnya.

Tapi masyarakat tidak peduli itu. Tengoklah, bagaimana kiri-kanan kita hanya bisa melihat hasil akhir tanpa mau peduli dengan proses. Masyarakat tak mau peduli alasan mengapa orang tidak bisa mencapai suatu keberhasilan. Yang mereka tahu adalah orang tersebut telah gagal! Sehebat apa pun perjuangan yang telah dilakukan orang, kalau toh dia tidak berhasil mencapai tujuannya, dia tetap adalah orang yang gagal! Perjuangan tersebut tak berarti apa-apa kalau pada akhirnya tidak membuahkan hasil yang tampak nyata.

Begitulah mata masyarakat sudah sedemikian rupa rabun, sehingga yang tampak hanyalah hasil perbuatan, bukanlah perbuatannya itu sendiri. Padahal Allah tidak pernah menanyakan “apa hasil perbuatanmu?”, melainkan “apa yang telah kamu perbuat?” Itu saja. Karena memang hasil segala sesuatu adalah kehendakNya. Toh kalau Ia menghendaki sesuatu terjadi pada mahlukNya, tanpa mahluknya itu berusaha apa-apa, jika Ia menginginkan terjadi pastilah tak ada yang dapat menghalangi. Seorang manusia hanya diwajibkan untuk berusaha dan berdoa, namun tidak diwajibkan untuk berhasil. Karena memang diujung ikhtiar dan doa adalah wilayah kekuasaan Allah. Apakah usaha kita berhasil atau tidak, itu bukan tanggungjawab kita.

Tapi yang terjadi di masyarakat tidak demikian adanya. Orang-orang sangat terbiasa mudah melecehkan orang lain tanpa benar-benar mau peduli apa yang sebenarnya telah dialami orang tersebut. Orang yang tidak sukses selamanya akan mendapat posisi direndahkan. Tak ada toleransi untuk orang-orang yang gagal. Sekali lagi, masyarakat selalu terbiasa berorienasi hasil, bukan menghargai proses. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang mendapat nilai D akan tetap dianggap rendah meskipun itu adalah hasil maksimal yang bisa ia lakukan. Orang tidak peduli seberapa keras ia telah belajar, walaupun akhirnya hanya itu yang bisa ia capai. Orang tidak mau tahu bagaimana sebenarnya keadaan yang ia alami sehingga ia mendapat niali jelek seperti itu. Mungkin saja ia tidak punya waktu untuk belajar karena harus bekerja menghidupi keluarga. Atau mungkin saja dia sebenarnya sedang dilanda masalah besar sehingga ia tidak bisa berkonsentrasi belajar. Orang tak mau peduli itu semua. Sementara mahasiswa lain yang mendapat nilai A akan disanjung dan dipuji. Walaupun sebenarnya nilai A tersebut memang sudah sangat wajar ia dapatkan karena memang tak ada yang menghalanginya untuk mendapatkannya. Ia tidak mengalami kesulitan ekonomi, tidak punya masalah keluarga, dan hal-hal lain yang bisa mengganggu konsentrasinya belajar. Justru kalau ia tidak mendapat nilai A, itu adalah hal sangat tidak wajar baginya. Orang juga tidak mau peduli walaupun mungkin saja nilai A tersebut adalah hasil menyontek sekalipun, ia akan tetap dipuji.

Tentu saya tidak mengatakan kalau mahasiswa yang mendaapat nila D tersebut seharusnya mendapat nilai A. Saya hanya ingin mengatakan bagaimana buruknya persepsi orang terhadap mahasiswa tersebut. Orang hanya tahu dia gagal tanpa mau bertoleransi pada keadaan yang memaksanya gagal. Sama halnya dengan seorang pengangguran akan selalu dianggap orang yang gagal dan orang yang malas bekerja. Orang tidak pernah mau peduli sudah berapa lembar surat lamaran yang ia buat. Sudah berapa banyak kantor yang ia masuki. Sudah berapa keras usahanya mencari kerja. Yang kelihatan di masyarakat adalah dia masih tetap seorang pengangguran.

Seorang penulis akan tetap dianggap penulis yang gagal selama belum ada tulisannya yang muncul di media. Orang tak mau menghitung berapa lembar tulisan yang telah berhasil ia selesaikan, walaupun belum ada satu pun yang berhasil menembus media. Orang tak mau menghitung berapa lembar kertas yang telah ia habiskan untuk menulis. Berapa botol tinta yang telah ia kuras. Orang hanya tahu bahwa dia belum benar-benar seorang penulis hanya karena belum berhasil mempublikasikan karyanya.

Ketika dulu pertama kali saya menulis, banyak sekali teman-teman dan kenalan saya datang kepada saya untuk meminta tips dan trik tentang bagaimana caranya agar bisa menulis seperti saya. Juga ketika beberapa kali saya berhasil tulisan say diterbitkan, banyak yang mengaku ingin seperti saya. Pertanyaan mereka kadang membuat saya kesal, sebab seolah-olah merka berpikir kalau saya berikan tip dan trik saya, serta merta mereka akan bisa menerbitkan buku atau menang lomba. Seakan begitu sederhananya untuk menjadi berhasil di mata mereka. Jarang ada diantara mereka yang benar-benar mau tau sudah berapa kali saya gagal dan sudah berapa kali saya kalah. Mereka hanya bisa melihat buku yang telah saya terbitkan, tapi tidak melihat berapa tulisan saya yang ditolak. Mereka hanya bisa melihat kemenangan saya, tanpa pernah tahu sudah berapa kali saya kalah dalam.

Jika ada orang bertanya seperti itu pada saya, dengan enteng saya akan menjawab: jika ingin menerbitkan tulisan syarat yang pertama adalah kita harus punya tulisan, dan jika ingin menang lomba syarat pertamanya adalah kita harus ikut dulu lomba tersebut. Ya, tentu saja jawaban saya cukup sesederhana itu. Sebab banyak sekali yang mengaku ingin punya buku, tapi ia tidak pernah mulai menulis. Banyak yang mengaku ingin menang lomba, tapi ia tidak pernah ikut lomba apa pun. Soal tip dan trik, dalam perjalannya kita akan menemukan tip dan trik kita sendiri. lagipula ti dan trik yang manjur untuk saya belum pasti akan cocok dengan mereka. Karena memng banyak sekali faktor yang akan membedakannya.

Begitulah, sikap teman-teman saya mewakili masyarakat pada umumnya. Mereka hanya bisa melihat hasil usaha saya tanpa peduli dengan proses yang telah saya lalui untuk mencapai kesuksesan tersebut. Ketika saya belum berhasil menerbikan buku dan belum berhasil memenangkan lomba, kemanakah mereka? Jika saja seandainya saya tidak pernah berhasil, mungkinkah mereka bisa menghargai usaha-usaha saya yang gagal? Tentu tidak. Masyarakat tidak punya tempat untuk orang yang gagal. Masyarakat tidak mau tahu alasan mengapa orang bisa gagal. Mereka hanya tahu orang yang berhasil. Orang yang gagal selamanya akan dengan mudah dilecehkan. Orang yang tidak mau peuli apa pun yang telah dialami orang tersebut.

Ada satu kisah menarik yang ingin saya ceritakan di ujung tulisan ini. Di sebuah SMP ada seroang guru wali kelas yang selalu memberi angka C untuk nilai kerapian di raport salah seorang murid. Sang wali kelas tersebut sangat menyayangkan sang murid yang menurutnya tidak memperhatikan kerapian dirinya. Bajunya kusut karena jarang disetrika. Entah mengapa sang murid sangat sering mengeluarkan bajunya, terutama di bagian belakang. Padahal sekolah mewajibkan semua siswa memasukkan baju ke dalam celana agar keliahtan rapi. Betapa bandelnya dan kumalnya anak tersebut, pikir sang wali kelas tersebut. Padahal dia selalu rangking di kelasnya. Sangat disayangkan.

Pada suatu ketika sang anak itu sakit dan tidak bisa ke sekolah. Tiga hari berturut-turut ia tidak masuk. Karena rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah, sang wali kelas bersepakat dengan para murid untuk datang menjenguk anak tersebut. Ketika itulah sang wali kelas mengetahui keadaan keluarga sang anak yang sebenarnya. Rupanya keadaan keluarganya sangat sederhana. Pantas saja sang anak jarang menyetrika bajunya, sebab di rumahnya tidak ada listrik. Kalau mau menyetrika tentu harus membakar arang dulu untuk mengisi setrika tua itu, pikir sang wali kelas sambil memperhatikan setrika tua yang kebetulan teronggok di sudut ruangan tempat sang anak terbaring sakit. Tentu tidak semudah dirinya, yang kalau ingin menyetrika tinggal colok ke stop kontak. Pantas saja baju sang anak tersebut kelihatan kusam dan pudar warnanya. Mungkin saja baju itu sudah dipakainya sejak kelas satu dulu dan tak pernah punya uang untuk membeli gantinya. Lihat saja baju yang ia pakai saat itu, juga sudah sangat kusam dan butut.

Sejak itulah persepsi sang wali murid mulai sedikit berubah pada sang anak. Sampai sekali waktu ia memergoki sang anak mengeluarkan bajunya di bagian belakang. Tanpa diperintahkan dengan sendirinya sang anak sadar untuk memasukkan bajunya di depan sang wali kelas tersebut. Saat sang anak membelakanginya sang wali kelas itu pun tertegun, melihat bagian pantat celana sang anak yang ada tambalannya. Ah, mungkin itulah sebabnya anak itu selalu mengeluarkan bajunya terutama di bagian belakang, pikirnya. Pasti ia malu tambalan itu dilihat orang banyak. Persepsi buruk sang wali kelas terhadap anak itu pun berubah jadi rasa kasihan dan simpati.

Pada pembagian raport berikutnya sang anak pun terkejut melihat nilai kerapiannya tidak lagi C, tapi sudah meningkat jadi B. Sama seperti yang didapat anak-anak yang lain.

Begitulah, dalam kisah di atas sang wali kelas segera berubah ketika tahu keadaan ekonomi keluarga sang anak. Ia segera menurunkan standar kerapian terhadap sang anak, karena ia tahu tidak mungkin sang anak disamakan dengan anak-anak yang lainnya. Untuk ukuran dia begitu saja sudah cukup rapi. Karena memang sangat sulit tentunya jika ia harus keliahtan seperti anak-anak yang lain yang tidak punya masalah dengan setrika dan tentu saja tidak punya tambalan di pantat seperti pada celananya.

Tapi coba lihat bagaimana persepsi sang wali kelas itu sebelum benar-benar tahu keadaan keluarga sang anak. Dengan cepat ia memiliki perspsi buruk terhadap anak tersebut, menganggapnya sebagai anak yang tidak bisa rapi dan sangat bandel. Seperti itulah pada umumnya cara masyarakat memandang seseorang. Orang tidak pernah benar-benar mau tahu apa sebenarnya yang telah dialami orang tersebut sehingga ia jadi demikian. Dengan mudah orang akan memberi cap buruk. Dengan mudah orang melecehkan orang lain yang gagal, tanpa memberi ampun. Termasuk kita sendiri, mungkin sangat sering bersikap begitu kepada orang lain.

Bookmark and Share